Highlight
Bestindotech- Dari keyboard yang belum pernah dibuka sejak 2019 sampai smart plug yang aplikasinya tiba-tiba mati, tim Bestindotech ternyata juga tidak kebal dari pembelian impulsif.
- Tiga orang beli IEM, tiga-tiganya menyesal karena satu alasan yang berbeda-beda.
- Bladeless fan 5 juta yang anginnya tidak sekencang ekspektasi, tapi tetap dibeli lagi sampai tiga unit.
Tidak ada yang kebal dari pembelian impulsif, bahkan orang-orang yang sehari-harinya berkutat dengan gadget sekalipun. Beli karena penasaran, beli karena tren, beli karena tergiur tampilan, lalu berakhir dengan penyesalan yang kadang cukup mahal.
Kali ini giliran tim internal Bestindotech yang jujur berbagi. Dari yang belum pernah dibuka sama sekali, sampai yang sudah dibeli berulang kali tapi tetap tidak memuaskan. Hasilnya cukup menghibur dan, mungkin, cukup relatable.
Daniel: Gamepad Tanpa Tombol, Power Bank yang Kepanasan, dan Kopi yang Lebih Mahal dari Seharusnya
Daniel, content creator Bestindotech, datang dengan tiga penyesalan sekaligus. Yang pertama adalah gamepad Ipega Magic Cube yang ia beli karena tampilannya menarik. Masalahnya baru ketahuan setelah dibeli: tidak ada tombol A, B, X, Y fisik. Semua hanya tersedia via touchscreen. Untuk main game RPG atau emulator, ini jelas tidak ideal. Kesalahannya sendiri yang tidak teliti sebelum membeli.
Yang kedua adalah power bank MagSafe 5.000 mAh yang bisa ditempel di belakang HP. Konsepnya menarik dan desainnya keren, tapi kapasitasnya tidak cukup untuk mengisi iPhone hingga penuh. Panas duluan sebelum baterai full. Ia akhirnya beralih ke Rapatek 10.000 mAh yang lebih fungsional. Ia juga mencatat bahwa wireless charging pada dasarnya memang lebih boros energi dan menghasilkan panas yang bisa berdampak pada kesehatan baterai jangka panjang.
Yang ketiga adalah coffee machine capsule yang terasa kurang worth it setelah ada espresso machine dari Xiaomi dengan harga lebih murah dan rasa yang menurutnya lebih enak. Ditambah harga per kapsul yang lebih mahal dan tidak bisa dibeli satuan, harus per paket 10.
Haris: IEM yang Sakit di Telinga dan SSD yang Bikin Deg-degan
Haris, videografer Bestindotech, membeli IEM dari KZ untuk kebutuhan editing di luar studio agar tidak perlu membawa headphone besar. Masalahnya sederhana tapi tidak bisa diabaikan: bentuknya tidak nyaman di telinga dan lama-lama terasa sakit. Ia bahkan sudah sempat membeli aksesori tambahan seperti busa pengganti dan kabel Type-C, tapi tetap tidak terpakai. Kembali ke headphone.
Penyesalan keduanya adalah SSD Sandisk 1TB yang ia beli seharga 2,2 juta sebelum sempat membaca review. Setelah dibeli, ia menemukan laporan bahwa beberapa unit mengalami kehilangan data dalam dua hingga tiga bulan pertama pemakaian. SSD-nya masih berfungsi dan masih dipakai, tapi kekhawatiran itu masih ada. Satu sisi yang sedikit menghibur: harga SSD yang sama kini sudah naik ke 3,9 juta.
Nata: Beli IEM Buat Monitoring, Tapi Frekuensinya Tidak Flat
Nata, videografer Bestindotech, membeli IEM GadgetGSN Pro dengan harapan mendapat respons frekuensi yang flat untuk kebutuhan monitoring audio. Masalahnya, ia baru sadar belakangan bahwa IEM ini memang tidak flat, sesuatu yang mestinya bisa diketahui lebih awal kalau membaca review terlebih dahulu. IEM-nya kini menganggur di rumah, digantikan TinHiFi C3 yang menurutnya lebih sesuai untuk kebutuhan monitoring.
Fajri: Lima Kali Lebih Ganti Adapter, Akhirnya Sadar Harusnya Beli TWS dari Awal
Fadjri, editor Bestindotech, sudah membeli jack-to-lightning adapter lebih dari lima kali dengan berbagai merek, dari McDodo sampai Ugreen, termasuk yang versi braided. Kebiasaan naik motor dengan earphone berkabel membuat kabel adapter sering terlipat dan rusak di area sambungan.
Ia akhirnya beralih ke KZ AZ09, bluetooth adapter seharga 400 ribu yang memungkinkan earphone berkabel dipakai secara wireless. Awalnya memuaskan, latensinya hampir tidak terasa dan suaranya tetap bagus. Tapi belakangan muncul penyesalan berbeda: dengan harga yang sama, sekarang sudah banyak TWS yang tersedia. Kalau dihitung total uang yang sudah keluar untuk semua adapter sebelumnya, angkanya sudah cukup untuk beli TWS decent dari awal.
Julius: Terbawa Tren Dump Phone, Balik Lagi ke Android
Julius, admin Bestindotech, sempat terbawa tren dump phone di tahun 2024 dan membeli Caterpillar S22 Flip seharga sekitar 2,5 juta. Dua hingga tiga bulan sempat dijadikan daily driver, tapi lama-lama tidak nyaman. Spesifikasinya kurang untuk standar 2024 dan masih berjalan di Android 11 Go, sehingga update software lambat dan banyak aplikasi modern tidak berjalan optimal. HP-nya sudah dijual, dan sepertinya tidak akan kembali ke dump phone dalam waktu dekat.
Gezi: Kacamata Smart yang Tidak Cocok Dipakai Pakai Helm
Gezi, content creator Bestindotech, membeli kacamata smart Keep Wireless Smart Glasses 2-in-1 yang punya built-in bluetooth speaker. Ide awalnya masuk akal: naik motor tanpa harus repot dengan kabel earphone yang sering pabelit. Masalah muncul setelah dua minggu pemakaian. Tangkai kacamata yang tebal untuk speaker berbenturan dengan busa bagian dalam helm, sehingga terasa menekan dan lama-lama sakit. Sekarang hanya dipakai saat bersepeda di akhir pekan.
Kualitas audionya sendiri cukup, jernih, dan suara sekitar tetap bisa terdengar. Idenya bagus, situasinya saja yang tidak pas.
Roy: HP Distributor yang Bermasalah Sejak Hari Pertama
Roy, editor Bestindotech, punya pengalaman yang lebih pahit dari yang lain. Ia membeli Redmi 2 distributor yang tampak normal saat transaksi, datang dengan box lengkap seperti barang baru. Tapi begitu sampai rumah, HP-nya langsung bermasalah: sering restart sendiri dan mati-nyala tidak jelas.
Proses servis berlarut-larut lebih dari sebulan dengan berbagai alasan yang terus berganti. HP yang akhirnya dikembalikan pun terasa bukan unit yang sama. Pelajaran yang ia ambil: lebih baik beli dari jalur resmi, agar kalau ada masalah prosesnya lebih jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
Siddiq: IEM Lengkap dengan Upgrade Aksesori, Tapi HP Barunya Tidak Punya Jack
Siddiq, editor Bestindotech, membeli IEM SIM God EW100P seharga sekitar 200 ribu, lengkap dengan upgrade kabel 16 core dari Jekeli yang ada mic-nya, plus memory foam dari KZ. Penyesalannya datang bukan dari kualitas produknya, tapi karena ia ganti HP yang tidak punya jack audio. IEM-nya tidak bisa lagi dipakai, dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk aksesori ikut terasa sia-sia. Ia kini beralih ke Samsung Buds Core.
Sevin: Smart Plug yang Smartnya Hilang Setelah 6 Bulan
Sevin, office manager Bestindotech, membeli smart plug dari Kadonyo seharga sekitar 75 ribu untuk mengatasi kebiasaan ngecas HP semalaman. Fungsinya bagus: bisa diatur timer agar pengisian otomatis berhenti, tidak perlu menunggu baterai penuh sebelum tidur.
Tapi baru enam bulan dipakai, aplikasinya tiba-tiba mati dan tidak bisa digunakan lagi. Smart plug-nya kini hanya berfungsi sebagai colokan biasa, tanpa fitur pintarnya sama sekali.
Hansen: Pendingin HP yang Baterainya Habis Sebelum Dipakai
Hansen, web developer Bestindotech, membeli pendingin HP seharga 50 ribu dengan baterai internal 300 mAh. Tiga masalah muncul sekaligus: baterai yang habis dalam satu jam padahal sesi gaming bisa jauh lebih lama, suara kipas yang cukup berisik, dan tombol power yang terlalu sensitif sehingga sering nyala sendiri di dalam tas. Setiap kali mau dipakai, baterainya sudah habis duluan.
Anes: Keyboard Mechanical yang Belum Dibuka Sejak 2019
Anes, content creator Bestindotech, menyimpan sebuah keyboard mechanical Rocket Vulkan 100 AIMU yang dibeli sekitar tahun 2019 seharga 2 jutaan. Sampai hari ini belum pernah dibuka sama sekali.
Alasannya sederhana: keyboard mechanical lamanya tidak pernah rusak, sehingga tidak pernah ada momen yang membuatnya perlu beralih. Pembelian murni impulsif setelah tertarik saat scroll toko online. Sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam box, belum tau bagus atau tidak, dan mereknya sudah tidak dijual lagi di Indonesia.
Malvin: Bladeless Fan yang Estetiknya Tidak Sebanding Anginnya
Malvin, host Bestindotech, mengakui punya koleksi bladeless fan yang jumlahnya sudah mencapai tiga unit, dua Dyson dan satu Dreamy. Pembelian pertama dilakukan sekitar tahun 2020 seharga sekitar 5 jutaan, sebelum akhirnya mampu membeli Dyson. Alasannya jelas: tampilannya futuristik, tidak ada bilah kipas yang kelihatan, dan aman untuk anak-anak.
Masalahnya satu: anginnya tidak sekencang yang diharapkan. Estetikanya memang tidak diragukan, dan Dyson yang lebih mahal sekaligus berfungsi sebagai air purifier. Tapi dari sisi hembusan angin, hasilnya tidak sebanding dengan harganya. Meski begitu, ia tetap membelinya lagi. Alasannya, kalau ada tamu yang datang ke ruang tamu, efeknya memang berbeda.
Verren: Portable Fan yang Selalu Mati Sebelum Dipakai
Verren, sosmed manager Bestindotech, membeli portable fan setelah mengecek rating dan jumlah pembeli terlebih dahulu. Produknya berfungsi baik dengan lima level kecepatan dan anginnya terasa. Tapi masalah yang sama dengan Hansen muncul: tombol yang terlalu mudah kepencet membuat kipas sering menyala sendiri di dalam tas, sehingga setiap kali dibutuhkan saat kepanasan, baterainya sudah habis duluan.
Kesimpulan
Dari semua cerita yang dibagikan tim Bestindotech, polanya cukup konsisten: banyak penyesalan yang sebenarnya bisa dihindari kalau ada sedikit lebih banyak riset sebelum membeli. Baca review, cek kompatibilitas, dan pastikan gadget itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar keinginan sesaat.
Tapi seperti yang terbukti dari keyboard yang belum dibuka sejak 2019 sampai bladeless fan yang tetap dibeli sampai tiga unit, kadang kita memang beli karena manusia.
Comment