Highlight
Bestindotech- Rear surround speaker-nya bisa dicopot dan berjalan dengan baterai internal 10 jam, tidak perlu kabel ke listrik, jadi setup 7.1.4 Dolby Atmos tanpa kerumitan kabel di belakang kursi.
- Total output 960 Watt dengan subwoofer 480 Watt RMS, naik dari 880 Watt di Mark I, dan bass-nya memang khas JBL: bulat dan terasa.
- Ada fitur Broadcasting yang memungkinkan rear speaker dicopot dan dibawa ke ruangan lain untuk tetap mendengar audio yang sedang diputar di TV.
Salah satu alasan orang enggan membangun home theater yang serius adalah kabel. Rear surround speaker biasanya butuh kabel panjang yang menjalar ke belakang sofa, butuh colokan listrik tambahan, dan kalau layoutnya tidak mendukung, hasilnya lebih berantakan dari yang dibayangkan. JBL Bar 1000 MK2 hadir dengan solusi yang cukup elegan untuk masalah ini.
Bestindotech memasang JBL Bar 1000 MK2 di family room yang baru selesai dibangun, lengkap dengan setup proyektor, Apple TV, dan Nintendo Switch. Setelah sekitar seminggu pemakaian, ini yang perlu kamu tahu.
Desain dan Isi Kotak
Panjang total soundbar saat rear speaker terpasang di kedua ujungnya sekitar 120 cm. Tapi bagian yang menarik justru di sini: kedua ujung tersebut bisa dicopot. Tanpa rear speaker, soundbar-nya sendiri hanya sekitar 82 cm, jauh lebih compact. Rear speaker ini bukan sekadar aksesori pasif, karena di dalamnya sudah ada baterai yang diklaim tahan hingga 10 jam, jadi tidak perlu kabel ke stopkontak saat ditaruh di belakang ruangan.
Isi kotaknya tergolong lengkap. Ada enam kabel yang disertakan, wall mount untuk pemasangan di dinding yang sudah termasuk dalam paket, cover penutup ujung soundbar saat rear speaker dicopot, dudukan magnet untuk rear speaker, remote lengkap dengan baterai, kabel HDMI, dan subwoofer berukuran cukup besar. Port pengisian daya rear speaker ada di USB Type-C, tapi saat terpasang di soundbar, pengisian berlangsung otomatis via pin emas tanpa kabel tambahan.
Spesifikasi dan Konfigurasi
JBL Bar 1000 MK2 menggunakan konfigurasi 7.1.4 yang kompatibel dengan Dolby Atmos dan DTS:X. Total output-nya 960 Watt, naik dari 880 Watt di versi Mark I, dengan subwoofer berkontribusi 480 Watt RMS sendiri. Subwoofer-nya menghadap ke belakang mengarah ke dinding, bukan ke pendengar, supaya getarannya terasa lewat pantulan.
Satu hal yang perlu dicatat untuk pengguna proyektor: processing Dolby Atmos ada di soundbar, bukan di perangkat sumber. Jadi kalau proyektor belum support Dolby Atmos, tetap bisa memutar konten Dolby Atmos selama perangkat sumber seperti Apple TV atau set-top box yang terhubung ke soundbar-nya yang support. Soundbar ini punya HDMI input, jadi perangkat video bisa dicolok langsung ke soundbar lalu diteruskan ke proyektor atau TV.
Setup dan Aplikasi
Setelah terpasang, langkah pertama adalah pairing ke aplikasi JBL One. Ada software update yang perlu ditunggu sekitar 10 hingga 15 menit. Setelah itu, semua fitur dan pengaturan bisa diakses dari aplikasi.
Fitur yang tersedia cukup banyak. Multi Beam 3.0 untuk kalibrasi soundstage agar lebih imersif, Pure Voice 2.0 untuk dialog yang lebih jelas terutama untuk konten berbahasa Inggris, EQ yang bisa diatur sesuai selera, dan Night Listening mode yang hanya memainkan audio lewat rear surround speaker sambil mematikan soundbar utama dan subwoofer agar tidak mengganggu.
Ada juga fitur Broadcasting yang memungkinkan rear speaker dicopot dan dibawa ke ruangan lain, misalnya ke dapur atau ruang lain, untuk tetap mendengar audio yang sedang diputar. Berguna kalau sedang nonton bola atau F1 dan tidak mau ketinggalan momen saat harus pindah ruangan sebentar.
Untuk konektivitas, soundbar ini mendukung Apple AirPlay, Spotify Connect, Google Chromecast, dan Bluetooth. AirPlay memungkinkan streaming dari perangkat Apple dan bisa digabung dengan speaker AirPlay lain di rumah sebagai sistem multi-room. Tapi kalau tidak terhubung ke WiFi, fitur-fitur di aplikasi tidak bisa diakses dan hanya bisa dikontrol lewat remote.
Remote dan Kontrol
Remote JBL Bar 1000 MK2 cukup lengkap untuk pengaturan harian. Level bass, level rear surround, dan berbagai pengaturan lain bisa diubah langsung dari remote tanpa harus buka aplikasi. Ada juga tombol kalibrasi di bagian bawah kanan untuk mengukur ruangan, berguna terutama saat posisi rear speaker dipindah.
Satu hal yang terasa agak tidak biasa: skala volume maksimalnya di angka 32, bukan 10, 50, atau angka bulat lain yang lebih umum. Tidak berpengaruh ke fungsi, tapi terasa sedikit tidak konsisten dengan konvensi yang biasa dipakai perangkat audio lain.
Kualitas Suara
Setelah seminggu pemakaian untuk nonton film, streaming, dan gaming, peningkatan suaranya terasa signifikan dibanding speaker bawaan proyektor. Bass dari subwoofer-nya khas JBL: bulat, nampol, dan terasa di ruangan. Koneksi rear speaker saat dicopot dan dipasang kembali seamless tanpa delay.
Untuk posisi rear speaker, hasil terbaik ada di posisi horizontal, bukan vertikal, karena posisi driver speaker-nya memang dirancang untuk menghadap ke atas dan ke depan sekaligus. Kalau dipasang vertikal, arah suaranya jadi tidak optimal.
Harga dan Pilihan Lain
JBL Bar 1000 MK2 dijual di harga Rp13.999.000. Sebagai alternatif, versi Mark I masih tersedia di pasaran dengan harga lebih terjangkau dan fitur yang mirip, hanya berbeda di output power yang sedikit lebih rendah. Untuk ruangan yang lebih besar, ada JBL Bar 1300 dengan konfigurasi 11.1.4 dan output hingga 1.200 Watt.
Kesimpulan
JBL Bar 1000 MK2 menjawab masalah utama setup surround sound di rumah: kerumitan kabel. Rear speaker yang berjalan dengan baterai dan tidak perlu colokan listrik tambahan membuat instalasi 7.1.4 Dolby Atmos bisa dilakukan tanpa menjalar kabel ke seluruh ruangan. Ditambah fitur Broadcasting, Multi Beam 3.0, dan kompatibilitas AirPlay yang lengkap, soundbar ini menawarkan pengalaman home theater yang serius tanpa setup yang rumit.
Comment