Highlight
Bestindotech- Switch 2 dibeli, lalu dijual, lalu balik ke Switch OLED karena upgrade-nya tidak semindblowing yang diharapkan.
- Steam Deck OLED terasa cocok untuk game indie, tapi kewalahan di game AAA berat, plus beli casing mahal yang akhirnya tidak terpakai.
- DJI Osmo Pocket 3 terlalu menyenangkan sampai selalu diambil tim, sementara DJI Neo dibeli telat karena mahal duluan sebelum tau ada di Cina dengan harga setengahnya.
Setiap tech creator punya cerita soal gadget yang bikin menyesal, entah karena beli terlalu cepat, terlalu mahal, atau justru terlalu telat. Dan ternyata, penyesalan itu tidak selalu negatif. Ada yang menyesal karena baru sadar betapa bagusnya sesuatu, dan ada yang menyesal karena sudah terlanjur keluar uang untuk sesuatu yang kurang worth it.
Kebetulan bulan Februari ini ada momen yang pas: Samsung Unpacked 2026 di San Francisco mengumpulkan banyak content creator dan tech reviewer Indonesia dalam satu tempat. Kesempatan itu dimanfaatkan Bestindotech untuk ngobrol santai soal gadget penyesalan masing-masing. Hasilnya cukup jujur dan menarik untuk disimak.
Reza (Peppersboy): Nintendo Switch 2

Reza dari Peppersboy adalah yang pertama berbagi. Gadget yang ia sesali? Nintendo Switch 2, yang ia beli di awal peluncuran dengan harga yang masih tinggi. Menurut dia, upgrade dari Switch sebelumnya memang ada, tapi tidak terasa signifikan. Tidak ada momen mindblown, tidak ada rasa puas yang cukup. Akhirnya Switch 2-nya dijual, dan ia kembali ke Switch OLED.
Menariknya, Switch OLED di tangannya masih terasa cukup relevan. Pokemon ZA masih bisa dimainkan di sana, walaupun tidak sehalus di Switch 2. Untuk yang sedang mempertimbangkan mau masuk ke ekosistem Nintendo, ia menyebut Switch OLED masih menjadi pilihan yang masuk akal kalau budget jadi pertimbangan.
Fahmi (Droidlime): Steam Deck OLED

Fahmi dari Droidlime punya dua penyesalan dalam satu perangkat: Steam Deck OLED. Penyesalan pertama adalah beli terlambat. Setelah akhirnya membeli di harga sekitar 9 jutaan, ia mengakui Steam Deck OLED memang layak dengan layar OLED yang nyala dan pengalaman bermain yang smooth.
Penyesalan kedua adalah membeli casing dari brand premium untuk perangkat itu, karena ternyata performanya tidak bertahan lama untuk game-game berat. Helldivers 2 yang awalnya bisa dimainkan dengan baik mulai terasa berat seiring update, dan Spider-Man 2 bahkan tidak bisa dijalankan sama sekali. Ia akhirnya beralih ke ROG Ally X untuk kebutuhan game yang lebih demanding.
Steam Deck-nya sendiri masih ada di kantor, belum dijual, dan kini lebih sering dipakai untuk game indie yang lebih ringan. Fahmi juga mencatat satu hal yang tetap jadi keunggulan Steam Deck: OS-nya. Antarmuka Steam Deck terasa enak dan intuitif, bahkan sampai ia install di ROG Ally X-nya lewat Bazzite.
Edward Halim: DJI Nano

Edward Halim punya penyesalan yang cukup mengejutkan karena ia mengaku suka sekali dengan brand ini. Produk yang ia sesali adalah DJI Nano, kamera action kecil yang layar dan kameranya bisa dipisah. Ia membeli di toko online lokal seharga sekitar 5 juta rupiah, lalu saat berkunjung ke China dan mampir ke toko resmi DJI, ia menemukan produk yang sama dijual seharga 2,5 juta, setengah dari harga yang ia bayar.
Tapi penyesalannya bukan hanya soal harga. Menurut Edward, DJI Nano terasa ringkas tapi kualitas gambarnya kurang memuaskan untuk kebutuhan konten. Ia membandingkannya dengan DJI Osmo Pocket yang ia anggap sebagai sweet spot antara ukuran dan kualitas gambar. Hampir 90 persen konten YouTube-nya dibuat dengan Osmo Pocket.
Om Deddy (Jagat Review): Nintendo Switch 2 dan DJI Osmo Pocket 3

Om Deddy dari Jagat Review ternyata punya dua penyesalan sekaligus. Yang pertama adalah Nintendo Switch 2. Bukan tidak suka dengan perangkatnya, tapi tidak sempat memakainya. Setiap kali ada niat main, kerjaan selalu mengalihkan. Gadget yang harusnya jadi hiburan justru lebih banyak duduk diam.
Yang kedua adalah DJI Osmo Pocket 3, dan ini adalah penyesalan yang positif. Osmo Pocket 3 terlalu menyenangkan untuk dipakai sehingga setiap kali ia membawany a liputan bersama tim, kamera itu selalu berakhir di tangan tim dan tidak pernah dikembalikan. Ia yang beli, tim yang menikmati. Akhirnya Om Deddy kembali merekam dengan HP, karena lebih cepat dan efisien untuk kebutuhan harian. Ia tetap mengakui Osmo Pocket 3 punya kualitas dan dynamic range yang lebih baik, tapi untuk kecepatan kerja di lapangan, HP lebih praktis.
Malvin: Apple AirTag

Dari sisi Malvin sendiri, penyesalan terbesar adalah tidak lebih cepat membeli Apple AirTag. Bukan penyesalan negatif, justru sebaliknya. Ceritanya berawal dari kejadian kecolongan saat dinas ke luar negeri, di mana semua barang yang ditaruh di dalam mobil hilang.
Yang membuat barang itu akhirnya bisa ditemukan adalah AirTag milik salah satu anggota tim yang ada di dalam tas. AirTag bekerja dengan memanfaatkan jaringan Bluetooth yang akan ping setiap kali ada iPhone lewat di dekatnya, memberikan update lokasi secara otomatis. Dengan penetrasi iPhone yang cukup luas di berbagai negara, sistem ini terbukti bekerja.
Tas dan koper berhasil kembali, meskipun sebagian besar isinya sudah kosong. Hanya MacBook yang dikembalikan, kemungkinan karena perangkat Apple memang sulit dibobol.
Untuk tracker dari merek lain, hasilnya kurang konsisten. Beberapa memang cukup oke, termasuk yang berbentuk kartu dan satu merek lokal, tapi daya tahan baterainya masih menjadi catatan. AirTag generasi pertama pun sudah cukup andal, dan versi AirTag 2 yang baru dirilis diklaim lebih akurat, respons lebih cepat, dan suara lebih kencang dengan desain yang tidak banyak berubah. Baterai CR2032 yang digunakan mudah dicari dan terjangkau, sekitar 20 hingga 30 ribu.
Malvin: Dr. Air Pistol Pijit Mini

Satu lagi gadget yang masuk daftar bulan ini adalah pistol pijit mini merek Dr. Air yang dibeli di Jepang. Bulan Februari ini dihabiskan selama tiga minggu di luar negeri, dua minggu di Jepang dan satu minggu di San Francisco untuk Samsung Unpacked, dan kelelahan perjalanan itu nyata.
Yang membuat Dr. Air menonjol dibanding pistol pijit biasa adalah cara pengaturannya. Alih-alih tombol yang harus diklik berulang, ia menggunakan slider yang bisa di-slide untuk mengatur intensitas dengan mudah. Kepala massagernya berbahan metal, bisa diganti sesuai kebutuhan, dan datang dengan beberapa attachment di dalam box. Ukurannya kecil, ada banyak pilihan warna, dan praktis dibawa.
Harganya sekitar 1,5 juta rupiah dan sejauh pengecekan belum tersedia di Indonesia secara resmi. Tapi untuk yang sedang merencanakan perjalanan ke Jepang, ini bisa jadi salah satu yang layak dicari. Di Indonesia sendiri ada beberapa merek seperti Philips yang menawarkan bentuk serupa dengan ukuran mini.
Kesimpulan
Dari semua yang dibagikan bulan ini, ada pola yang menarik: penyesalan paling dalam sering kali bukan soal gadget yang rusak atau mengecewakan, tapi soal keputusan pembelian yang kurang tepat waktunya atau harapan yang tidak sesuai realita. Switch 2 yang dibeli terlalu cepat, Steam Deck yang casing mahalnya terasa sia-sia setelah performa merosot, atau AirTag yang kalau dibeli lebih awal mungkin bisa mencegah lebih banyak kerugian.
Dan kadang penyesalan terbaik adalah yang positif: menyesal kenapa tidak beli lebih cepat.
Comment
test jj
t3est