Highlight
Bestindotech- Photo Assist di Galaxy S26 bisa generate objek dari deskripsi teks bahasa Indonesia, tapi di A57 cuma dapat fitur hapus objek.
- Samsung DeX kini support 4 desktop virtual dan gesture trackpad yang bisa dikustomisasi, Galaxy S26 benar-benar bisa jadi workstation portable.
- Game mode One UI 8.5 memungkinkan interface kamera benar-benar kosong tanpa indikator status, notifikasi, atau elemen UI apapun.
Setiap kali Samsung merilis update sistem operasi, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal apa yang baru, tetapi siapa yang benar-benar mendapat pengalaman penuh dari pembaruan tersebut. Update OS sering kali menjanjikan fitur canggih dan pengalaman yang lebih baik, namun realitasnya tidak semua perangkat mendapat perlakuan yang sama.
One UI 8.5 hadir sebagai update terbaru Samsung dengan sejumlah fitur AI dan kustomisasi yang menarik. Sistem ini sudah tersedia di Galaxy S26 series, Galaxy A57, dan Galaxy A37, sementara perangkat lain masih dalam tahap beta. Namun, seperti yang akan terungkap, pengalaman One UI 8.5 ternyata tidak sama di semua perangkat.
Kustomisasi Lockscreen dan Homescreen yang Lebih Fleksibel

Perubahan paling terasa dari One UI 8.5 ada di bagian yang paling sering dilihat pengguna: lockscreen dan homescreen. Fitur kustomisasi wallpaper kini lebih adaptif, di mana sistem bisa menyesuaikan posisi elemen sesuai dengan komposisi gambar. Ketika memasang foto sebagai wallpaper, sistem secara otomatis mendeteksi objek utama dan menyesuaikan posisi jam serta widget agar tidak menutupi bagian penting.
Yang menarik adalah fleksibilitas pengaturan jam di lockscreen. Pengguna bisa menggeser posisi jam, mengubah ukuran, bahkan memilih dari berbagai style font yang lebih beragam. Opsi untuk menebalkan atau menipiskan font memberikan kontrol visual yang lebih personal.
Khusus untuk Galaxy S26, ada fitur weather effect yang menampilkan efek cuaca real-time di lockscreen. Sistem mendeteksi kondisi cuaca sekitar dan menampilkan efek visual yang sesuai, seperti percikan air saat hujan deras atau efek salju. Fitur ini sayangnya tidak tersedia di seri A.
Quick Panel yang Bisa Dikustomisasi Penuh

Notification panel atau quick panel mendapat overhaul signifikan dalam hal kustomisasi. Pengguna kini bisa mengatur ulang setiap elemen, termasuk mengubah brightness slider dari horizontal menjadi vertikal, mengatur ukuran toggle, dan menentukan tata letak sesuai kebutuhan.
Fleksibilitas ini memungkinkan pengguna membuat quick panel yang benar-benar personal. Toggle Bluetooth bisa dibuat kecil berbentuk bulat, atau diperpanjang untuk akses lebih mudah. Semua kontrol aplikasi yang terinstall juga bisa ditambahkan ke quick panel, menciptakan integrasi yang lebih dalam antara One UI dengan aplikasi harian.
Photo Assist: AI yang Tidak Merata
Di sinilah perbedaan paling mencolok antara flagship dan midrange Samsung terlihat. Photo Assist di Galaxy S26 menawarkan empat fitur utama: AI Eraser, Move (untuk memindah objek), Create (generate objek baru), dan Style (mengubah gaya foto). Sementara Galaxy A57 hanya mendapat dua fitur: remaster dan object eraser.
Fitur Create di S26 memungkinkan pengguna menambahkan objek baru ke foto melalui dua cara: menggambar langsung di layar atau mendeskripsikan dalam teks bahasa Indonesia. Sistem AI kemudian akan generate objek sesuai deskripsi. Meski masih terbatas pada objek sederhana dan belum bisa menangani permintaan kompleks seperti dinosaurus atau multiple objek sekaligus.
Style effect mengubah foto biasa menjadi berbagai gaya artistik seperti oil painting, 3D toon, retro anime, watercolor, hingga sci-fi. Untuk foto portrait, ada fitur sketch yang menghasilkan gambar sketsa HD yang sangat detail.
Triple AI Integration yang Masih Mencari Bentuk

One UI 8.5 datang dengan tiga nama AI sekaligus: Gemini, Bixby yang dirasa mengalami resurrection, dan Perplexity. Ramai, tapi belum semuanya terasa seamless. Bixby menunjukkan peningkatan signifikan dalam memahami perintah dan mengakses fungsi sistem. AI ini bisa menganalisis kondisi baterai, mengatur brightness, bahkan memberikan tips untuk menjaga kesehatan baterai.
Namun integrasi ini masih terasa belum optimal. Perplexity misalnya, belum terintegrasi dengan aplikasi lokal seperti Grab atau Gojek, berbeda dengan versi luar negeri yang sudah connect dengan Uber. Bixby juga masih membutuhkan tweak tambahan untuk bisa bekerja optimal di lockscreen.
Camera Assistant dan Game Mode yang Lebih Canggih

Camera Assistant kini bisa didownload sebagai add-on yang memberikan kontrol lebih dalam terhadap aplikasi kamera. Fitur paling unik adalah customize indicator yang memungkinkan interface kamera benar-benar bersih tanpa indikator apapun di bagian atas layar. Ini memberikan pengalaman foto yang lebih immersive.
Game Mode juga mendapat refresh dengan interface yang lebih mirip gaming phone dari brand lain. Panel samping memberikan akses ke performance profile, system monitor untuk FPS, touch protection, dan berbagai kontrol gaming lainnya.
Samsung DeX yang Semakin Matang

Untuk flagship series, Samsung DeX mendapat peningkatan berarti. Fitur multi-desktop kini memungkinkan hingga 4 desktop virtual yang bisa diakses melalui recent apps. Touchpad gesture juga bisa dikustomisasi untuk berbagai fungsi seperti show app screen, home, recent, back, dan view notification.
Dengan external monitor, Galaxy S26 kini benar-benar bisa berfungsi sebagai workstation portable. Setup ini memungkinkan produktivitas tingkat desktop dari sebuah smartphone.
Realitas Implementasi yang Tidak Merata

Setelah mengeksplorasi One UI 8.5 di kedua perangkat, perbedaan pengalaman antara flagship dan midrange sangat terasa. Galaxy A57 mendapat interface yang sama dan beberapa fitur dasar, namun kehilangan fitur AI canggih, weather effect, Samsung DeX, dan berbagai capability lainnya.
Data storage untuk sistem juga menunjukkan perbedaan signifikan: A57 menggunakan 12.2GB sementara S26 membutuhkan 18.3GB. Selisih ini mencerminkan jumlah fitur dan capability yang berbeda antara kedua perangkat.
One UI 8.5 memang menghadirkan pengalaman yang lebih kaya dan personal, terutama dalam hal kustomisasi dan AI integration. Namun implementasi yang tidak merata membuat pengguna midrange merasa mendapat pengalaman yang terpotong. Fitur-fitur serunya memang terbatas untuk seri flagship. A57 yang sama-sama pakai One UI 8.5 out of the box itu berasa sedikit ketinggalan. Semoga update selanjutnya bisa meratakan ini ke HP mid range Samsung juga.




Comment